Cara Pengolahan Buah Merah


Berikut ini adalah cara mengolah buah merah
  1. Pilihlah buah merah yang sudah tua dan besar dari jenis buah merah bargom atau maler yang bisa menghasilkan minyak buah merah yang banyak dan banyak kandungannya;
  2. Memotong, membuang empulur, mencuci sampai bersih dari debu yang menempel padabuah merah dengan menggunakan sikat dan air bersih;
  3. Mengkukus atau merebus buah merah hingga masak kurang lebih selama 1 hingga 1,5 jam untuk memudahkan dalam mengeluarkan minyak sari buah merah;
  4. Memisahkan antara air, biji buah merah, ampas buah merah dan minyak sari buah merah
  5. Minyak sari buah merah diendapkan selama 15 sampai 30 hari;
  6. Minyak sari buah merah disimpan dalam botol kaca atau botol plastik yang steril.

KHASIAT BUAH MERAH DARI PAPUA



Jika dilihat dari kandungan tokoferol dan betakarotennya yang sangat banyak maka minyak saribuah merah  sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia juga karena mengandung berbagai macam vitamin dan mineral. Oleh karena sangat banyaknya kandungan buah merah hingga bisa disebut sebagai multivitamin yang berkhasiat atau dapat dijadikan pendamping obat resep dokter.

Beberapa macam jenis penyakit yang dapat disembuhkan menggunakan buah merah adalah : HIV/AIDS, kanker payudara, kista rahim, stroke, tumor, Hepatitis, jantung koroner, menormalkan peredaran darah, darah tinggi, Asam urat, Ambeien, Pegel linu, Ganguan mata, ganguan paru-paru, brookitis, asma/sesak nafas, osteoporosis, membantu system kerja otak, meningkatkan libido, stamina, maag/gangguan pencernaan akibat asam lambung. Buah merah juga sangat baik untuk kesehatan anak-anak, ibu hamil dan para  kaum manula.

1. AIDS
Walaupun telah bertahun-tahun para ahli mencoba membuat obat yang dapat menyembuhkan AIDS tetap saja obatnya masih belum bisa ditemukan. Mungkin Anda sendiri merasa tidak percaya mengenai khasiat buah merah yang satu ini. Namun khasiat buah merah dalam menyembuhkan AIDS sudah terbukti. Salah satu seorang yang terbebas dari cengkeraman kematian akibat AIDS adalah Agustina Sawery.

Agustina Sawery pernah menurun berat tubuhnya dari 50 kg menjadi 27 kg. Ia pernah mengalami infeksi anus, gangguan fungsi hati, mulut bercendawan dan infeksi paru-paru. Nampaknya Agustina tinggal menunggu jam kematiannya. Maka dia datang kepada Drs I Made Budi MS. Saat itu Made sudah dikenal luas di Papua lantaran kerap mengobati penyakit seperti kanker dengan ekstrak buah merah. Kemudian Agustina diberikan ekstrak buah merah yang dia konsumsi tiga kali sehari.
Sejak dia mengkonsumsi buah merah keadaannya mulai membaik. Berat badannya yang pernah turun sampai menjadi 27 kg mulai meningkat menjadi 46 kg. Kulitnya yang semua busik menjadi mulus kembali. Rambutnya yang sempat rontok mulai tumbuh lagi. Agustina menjadi jauh lebih bugar.

Dikabarkan bahwa kemampuan buah merah menyembuhkan AIDS adalah karena buah merah mengandung banyak tokoferol dan betakaroten yang sangat tinggi. Kedua kandungan ini berfungsi sebagai antioksidan dan dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia. Tokoferol dan betakaroten ini akhirnya berkombinasi untuk memecah asam amino yang dibutuhkan oleh virus penyebab AIDS, HIV, sehingga virus tersebut tak dapat melangsungkan hidupnya.

2. Kanker dan Tumor
Khasiat lain dari buah merah adalah mengobati kanker dan tumor. Kanker dan tumor tak diragukan lagi adalah salah satu penyebab kematian terbesar. Disebabkan oleh apa kanker dan tumor itu? Penyakit ini disebabkan oleh ketidakteraturan hormon dalam tubuh yang menyebabkan tumbuhnya daging di jaringan tubuh normal.


Buah merah Papua dapat mengobati kanker karena kandungan tokoferolnya yang sangat tinggi, yaitu mencapai 11.000 ppm dan betakarotennya mencapai 7.000 ppm. Kedua senyawa ini berfungsi sebagai antioksidan dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh serta mencegah pembiakan sel-sel kanker di dalam tubuh.

3. Stroke dan Darah Tinggi
Stroke disebabkan oleh darah yang telah membeku dan penyempitan pembuluh darah. Salah satu penyebab penyakit ini adalah darah tinggi. Tekanan darah tinggi menyebabkan penggumpalan darah sehingga pembuluh darah menyempit, akibatnya supplai darah berkurang. Lebih dari itu, pembuluh darah bisa pecah. Penyakit ini, bila tidak menyebabkan kematian, dapat menyebabkan kelumpuhan anggota badan.


Darah tinggi sendiri disebabkan oleh kerja jantung yang memompa darah terlalu cepat. Hal ini salah satunya disebabkan oleh karena darah kekurangan oksigen atau oksigen yang terlalu kental.
Buah merah Papua mengandung tokoferol yang dapat mengencerkan darah dan memperlancar sirkulasi darah sehingga kandungan oksigen dalam darah menjadi normal.

4. Asam Urat
Asam urat disebabkan karena terganggunya fungsi lever sehingga lever memproduksi asam urat secara berlebihan. Asam urat akhirnya tertampung di dalam ginjal menjadi batu dan dibawa ke ujung-ujung jari tangan dan kaki serta mengumpul di sana.
Tokoferol dalam buah merah Papua dapat mengencerkan darah dan memperbaiki sistem kerja lever. Sistem kerja lever, setelah diperbaiki, memproduksi kadar asam urat yang normal.

5. Diabetes Mellitus (Kencing Manis)
Penyakit ini disebabkan karena kelenjar pankreas tidak mampu memproduksi insulin dalam jumlah yang memadai/cukup. Akibatnya, kandungan gula dalam darah menjadi meningkat.
Kandungan tokoferol dalam buah merah Papua dapat memperbaiki kerja pankreas sehingga fungsi pankreas menjadi normal kembali.

6. Osteoporosis
Disebabkan pengeroposan tulang, osteoporosis disebabkan oleh kekurangan kalsium pada tulang. Penyakit ini umumnya menyerang mereka yang sudah berusia senja atau kaum manula.
Buah merah Papua adalah herbal yang kaya akan kalsium sehingga dapat mencegah dan mengobati osteoporosis. Dalam 100 gram buah merah segar terkandung 54.000 miligram kalsium.

7. Gangguan Mata
Kandungan betakaroten yang tinggi dalam buah merah Papua mampu mengatasi banyak jenis penyakit mata yang disebabkan kekurangan vitamin A. Betakaroten diserap oleh tubuh dan diolah menjadi vitamin A.

8. Meningkatkan Kecerdasan
Kandungan omega 3 dan omega 6 dalam buah merah dapat merangsang daya kerja otak dan meningkatkan kecerdasan. Oleh karena itu buah merah cocok untuk dikonsumsi oleh anak-anak dan pelajar.

9. Meningkatkan Gairah dan Kesuburan
Buah merah, menurut mereka yang mengkonsumsinya, dapat membantu meningkatkan gairah seksual kaum pria. Efek pengobatan bervariasi, ada yang bereaksi setelah 15 menit meminumnya, ada juga yang setelah satu atau dua jam meminumnya.
Vitamin E dalam buah merah Papua dapat membantu meningkatkan produksi sperma. Selain itu, buah merah mengandung energi tinggi, yaitu 360 kalori.

Selain khasiat-khasiat yang telah disebutkan di atas, buah merah Papua dikabarkan dapat juga mengobati penyakit lambung, wasir, gangguan pada paru-paru dan sebagainya.

Undangan Lepas Sambut Kapolres Teluk Bintuni

Akhirnya selesai buat undangan untuk acara Lepas Sambut Kapolres Teluk bintuni dari AKBP. H. Roland Situmeang, Sik. MH ke Kapolres Teluk Bintuni yang baru AKBP. Reza Heras Budi, Sik.

Klik show untuk melihat


ADAB BERTETANGGA


ADAB BERTETANGGA-Islam memerintahkan umatnya untuk bertetangga secara baik. Bahkan, saking seringnya Jibril mewasiatkan agar bertetangga dengan baik, Rasulullah pernah mengira tetangga termasuk ahli waris. Kata Rasulullah, seperti diriwayatkan oleh Aisyah, ''Jibril selalu mewasiatkan kepadaku tentang tetangga sampai aku menyangka bahwa ia akan mewarisinya.'' (HR Bukhari-Muslim).
Namun, ternyata waris atau warisan yang dimaksud Jibril adalah agar umat Islam selalu menjaga hubungan baik dengan sesama tetangga. Bertetangga dengan baik itu, termasuk menyebarkan salam ketika bertemu, menyapa, menanyakan kabarnya, menebar senyum, dan mengirimkan hadiah. Sabda Rasulullah SAW, ''Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak sayur maka perbanyaklah airnya dan bagikanlah kepada tetanggamu.'' (HR Muslim).
Lihatlah, betapa ringan ajaran Rasulullah, namun dampaknya sangat luar biasa bagi kerukunan dan keharmonisan kita dalam bermasyarakat. Untuk memberi hadiah tidak harus berupa bingkisan mahal, tapi cukup memberi sayur yang sehari-hari kita masak.
Untuk menjaga hubungan baik dengan tetangga, Rasulullah juga memerintahkan untuk saling menenggang perasaan masing-masing. ''Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir,'' kata Rasulullah, ''maka hendaknya ia tidak menyakiti tetangganya.'' (HR Bukhari).
Suatu kali, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang seorang wanita yang dikenal rajin melaksanakan shalat, puasa, dan zakat, tapi ia juga sering menyakiti tetangganya dengan lisannya. Rasulullah menegaskan, ''Pantasnya dia di dalam api neraka!''
Kemudian, sahabat itu bertanya lagi mengenai seorang wanita lain yang dikenal sedikit melaksanakan shalat dan puasa, namun sering berinfak dan tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya. Jawab Rasulullah, ''Ia pantas masuk surga!'' (HR Ahmad).
Seorang wanita bersusah payah melaksanakan shalat wajib, bangun malam, menahan haus dan lapar, serta mengorbankan harta untuk berinfak, namun menjadi mubazir lantaran buruk dalam bertutur sapa dengan tetangganya. Rasulullah bersumpah terhadap orang yang berperilaku demikian, tiga kali, dengan sumpahnya, ''Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman
...!''
Sahabat bertanya, ''Siapa, ya Rasulullah?'' Beliau menjawab, ''Orang yang tetangganya tidak pernah merasa aman dari keburukan perilakunya.'' (HR Bukhari).
Suatu kali, Aisyah pernah bingung mengenai siapa di antara tentangganya yang harus diutamakan. Lalu, ia bertanya kepada Rasulullah, ''Ya Rasulullah, saya mempunyai dua orang tetangga, kepada siapakah aku harus memberikan hadiah?'' Beliau bersabda, ''Kepada yang paling dekat rumahnya.'' (HR Bukhari).
Rasulullah menjadikan akhlak kepada tetangga sebagai acuan penilaian kebaikan seseorang. Kata beliau, ''Sebaik-baik kawan di sisi Allah adalah yang paling baik (budi pekertinya) terhadap kawannya, sebaik-baik tetangga adalah yang paling baik kepada tetangganya.'' (HR Tirmidzi). 

CERITA RENUNGAN: ADIL


ADIL-Pada suatu hari yang terik seorang musafir bermaksud mencari tempat untuk berteduh. Ia hendak melepas kepenatannya setelah setengah hari perjalanan. Tidak lama kemudian dijumpainya sebuah pohon beringin yang rindang dan berbuah lebat.
Disandarkan tubuhnya yang sudah terasa berat pada batang pohon beringin itu. Sambil tiduran ditebarkannya pandangan ke hamparan sawah di hadapannya. Tampak buah-buah semangka sebesar bola terhampar di sawah itu.
Demi melihat pemandangan tersebut, sang musafir bergumam sendirian, ''Sungguh tidak adil Allah itu. Pohon beringin yang begitu kokoh dan kuat ternyata berbuah hanya sebesar buah anggur. Sedangkan pohon semangka yang begitu kecil dan rapuh berbuah sebesar bola.'' Tidak lama kemudian tertidurlah ia di bawah pohon beringin itu.
Tiba-tiba ada sebutir buah beringin jatuh tepat mengenai kepala sang musafir. Ia terbangun. Dalam hati ia berkata, ''Seandainya saja buah beringin itu sebesar buah semangka entah bagaimana keadaannya jika buah itu jatuh menimpa orang yang berteduh di bawahnya. Sungguh Allah Mahaadil atas segala sesuatu.'' Diucapkannya istigfar berkali-kali untuk mohon ampun kepada-Nya karena telah berani mengatakan bahwa Allah tidak adil.
Cerita itu mungkin sangat sederhana. Banyak orang sudah pernah mendengar atau membaca cerita tersebut. Namun, sayangnya hanya sedikit saja orang yang bisa mengambil hikmahnya.
Sering orang berprasangka kepada Allah atas segala kejadian buruk yang menimpanya. Bahkan terkadang sampai berani menghujat-Nya dengan mengatakan bahwa Allah tidak adil sehingga ada yang sampai kehilangan keyakinannya terhadap Allah sama sekali.
Baik atau buruknya segala sesuatu itu hendaknya harus disandarkan pada aturan-aturan yang telah diturunkan Allah kepada manusia (Alquran). Seperti yang sudah kita ketahui bersama, manusia adalah makhluk yang penuh keterbatasan dan kelemahan.
Seringkali dalam menilai segala sesuatu manusia lebih menekankan pada unsur perasaannya saja. Tidak mengherankan bila timbul prasangka- prasangka buruk kepada Allah, jika yang ada di hadapan/dialaminya itu tidak sesuai dengan yang diharapkannya.
Padahal Allah dengan jelas telah berfirman, ''Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Allah Maha-mengetahui, sedang kamu tidak.'' (QS Al-Baqarah: 216)
Jadi segala sesuatu yang ada di dunia, pasti ada sisi baik yang bisa diambil oleh manusia, meskipun dalam pandangannya teramat buruk karena Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Tidak sepatutnya manusia mengatakan bahwa Allah tidak adil. Sesungguhnya tidak ada yang bisa melebihi ke-Mahaadilan Allah.

9 KEINGINAN ANAK DARI ORANG TUA


9 KEINGINAN ANAK DARI ORANG TUA-Ternyata, anak pun punya harapan kepada orang tua. Mereka menginginkan orang tua yang punya waktu luang untuknya, yang mau berbagi, dan sebagainya. Apa lagi?
Sudah seminggu ini Tesa diam membisu. Tak mau makan, enggan belajar, bahkan berbicara pun pelit. Selidik punya selidik, ternyata gadis 8 tahun ini tengah ngambek dan kesal pada orang tuanya. Menurutnya, orang tuanya hanya peduli pada diri mereka sendiri, dan membiarkan dirinya tumbuh sendiri bersama orang lain alias pembantu yang setiap hari mengasuhnya.
Terlalu sibuk, itu alasan klise kenapa banyak orang tua yang akhirnya menyerahkan urusan si kecil pada baby sitter atau pembantu. Padahal, anak menginginkan orang tua yang mau memerhatikan mereka. Apa lagi keinginan anak yang perlu diketahui orang tua?
1. WAKTU LUANG
"Mama, kok, sibuk terus, sih? Memangnya kerja enggak ada liburnya?" protes Tesa suatu hari pada sang mama.
Ya, boleh-boleh saja Anda sibuk berkarier di luar rumah, karena tujuan bekerja pasti untuk anak juga. Namun, anak pun menginginkan Anda memiliki waktu luang baginya. Jadi, Anda harus pintar me-manage waktu. Yang pasti, Anda harus menetapkan hari libur yang tak boleh lagi diusik dengan pekerjaan. Pergunakanlah waktu libur bersama anak.
2. KASIH SAYANG
Kebutuhan anak tak hanya kebutuhan fisik. Hal ini seringkali tidak disadari para orang tua yang sibuk berkarier. Mereka berpikir, melimpahi anak dengan harta benda sudah cukup.
Padahal tidak, kasih sayang dan perhatian Andalah yang paling penting untuk anak. Bentuk perhatian tidak melulu harus hadiah, tetapi dengan menemaninya belajar ataupun bermain, sudah cukup membuat anak senang.
3. TIDAK BERTENGKAR
Orang tua kadangkala tidak menyadari, saat emosi mereka memuncak, masalah anak dikesampingkan. Cekcok di depan anak lalu tak lagi jadi masalah, tidak peduli apakah anak merasa tertekan atau tidak, yang penting amarah itu bisa terlampiaskan.
Cara ini jelas salah. Boleh-boleh saja Anda dan pasangan bertengkar, tetapi janganlah di depan anak. Secara psikologis, ini tidak baik untuk perkembangan anak. Jiwanya akan tertekan dan ia akan bingung, siapa yang harus dibela dan disalahkan. Ayahnya-kah atau ibunya-kah? Nah, jika persoalan muncul, sebaiknya selesaikan saat anak tidak di rumah
atau sedang tidur, sehingga ia tidak melihat atau mendengar orang tuanya tengah ’berantem’.
4. TIDAK PILIH KASIH
Ninies mempunyai 2 anak. Tesa dan Oiya. Nah, si kecil Oiya diberi perhatian yang lebih dibandingkan Tesa. Pikirnya, si kakak juga akan mengerti bahwa adiknya itu bungsu. Jadi, wajar saja jika ia berlaku demikian.
Padahal, cara ini jelas salah dan tidak mendidik. Jangan sekali-sekali membedakan kasih sayang antara anak yang satu dengan anak yang lain. Jelas ini akan membuat anak yang dinomorduakan cemburu. Jangan pernah membuat batasan, yang bungsu harus lebih disayang daripada yang besar. Kalau tidak
5. RAMAH
"Mama jahat, Mama judes! Tesa benci sama Mama!", protes Tesa suatu hari pada sang Mama. Pasal kekesalannya, karena ketika temannya berkunjung ke rumah, mamanya tidak bersikap ramah. Memang, sih, ia tidak memberitahukan teman-teman sekolahnya akan datang, sehingga merepotkan mamanya menyiapkan makanan.
Sikap orang tua yang tidak bersahabat pada teman-teman si kecil jelas akan membuat anak merasa tidak nyaman. Dan ini sangat sering terjadi. Saat orang tua bete dan tidak siap menerima kedatangan teman anaknya, timbullah sikap tidak bersahabat. Untuk itu, meski suasana hati sedang tidak nyaman, cobalah tetap bersikap ramah pada teman-teman si kecil. Ingat, anak tak siap menerima perlakuan seperti itu dan akan berontak jika orang tuanya mempermalukannya.
6. MENEPATI JANJI
Janji adalah utang yang harus ditepati. Hal ini seringkali terlupakan para orang tua. Mereka menganggapnya sepele dan merasa tidak perlu harus selalu menepati janjinya pada si kecil. Bisa jadi, orang tua memang lupa, tapi sebaiknya hindari ingkar janji.
Ninies misalnya. Ketika Tesa sakit dan sulit minum obat, ia menjanjikan akan memberikan hadiah tas baru kalau mau minum obat. Namanya anak, diiming-iming dapat hadiah jelas saja bersemangat. Setelah sembuh, janji itu ditagih. Ternyata janji tinggal janji. Jelas saja si anak kecewa yang berujung dengan aksi ngambek dan nangis.
Sebaiknya, jangan pernah memberikan janji pada anak, jika hal itu hanya Anda maksudkan bercanda atau tidak sungguh-sungguh. Anda tidak mau, kan, dicap anak sebagai orang tua pembohong? Jika Anda sudah telanjur janji, sebaiknya ditepati.
7. PINTAR
Hal lain yang perlu Anda ketahui, anak ternyata juga menginginkan punya orang tua yang pintar dan cekatan. Tidak harus menjadi seorang profesor, tetapi setiapkali ia bertanya, Anda bisa menjawabnya.
Berikan jawaban yang masuk akal. Sebaiknya, berikan jawaban yang simpel dan tidak terlalu rumit, karena justru akan membuat anak bingung. Dalam hal pelajaran misalnya, Anda bisa mengikuti perkembangan belajar anak dari hari ke hari dan membaca buku pelajarannya. Dengan demikian, Anda akan mendapatkan solusi saat si anak mengalami kesulitan dalam belajar.
8. JADI TEMAN
Hubungan antara orang tua dan anak seringkali tidak harmonis, karena orang tua membuat batasan, tidak mau mengakrabkan diri pada anak dengan alasan agar anak segan. Padahal, sebagai anak, mereka juga menginginkan orang tua tidak saja menjadi tempat untuk meminta ataupun berlindung, melainkan juga bisa diajak berbagi alias curhat.
Nah, inilah yang terkadang tidak disadari para orang tua. Sulit membaur dalam kehidupan anak, membuat jarak, dan tidak mau tahu masalah yang dihadapi anak. Mulai sekarang, cobalah menata kembali hubungan Anda dan anak agar lebih akrab. Sehingga posisi Anda tak hanya sebagai orang tua, tetapi juga bisa sebagai teman.
9. MAMPU MENGATASI MASALAH
Seringkali, orang tua tidak menyadari sikapnya, dan mengeluh di depan anak. Keluhan Anda pun bermacam-macam, dari masalah keluarga sampai urusan pekerjaan yang membuat bingung si kecil. Mau tidak mau, ini melibatkan anak untuk turut berpikir dalam persoalan yang Anda hadapi. Padahal, itu tidak perlu. Kenapa harus berbagi masalah dengan anak? Apa yang dapat Anda harapkan dari seorang anak yang masih kecil dan pola pikirnya belum luas? Kalaupun anak memberikan pendapat, pasti Anda tidak puas karena tidak sesuai dengan yang Anda harapkan. Jadi, bicarakan masalah Anda dengan pasangan ataupun orang yang lebih tua dan memahami masalah tersebut.

PERLUKAH ANAK-ANAK MENDAPAT HUKUMAN BADAN????


PERLUKAH ANAK-ANAK MENDAPAT HUKUMAN BADAN?
Melihat anak berbuat salah, orang tua ataupun guru sering tak kuasa untuk tidak memberikan hukuman badan pada si anak.
Padahal, hukuman fisik itu belum tentu perlu. Sebab, hukuman macam ini justru sering berdampak buruk. Ada cara lain yang lebih baik dan patut dianut.
Kita masih ingat, pada tahun 1960-an atau 1970-an, masih banyak orang tua yang menghukum anak dengan sabetan gagang kemucing atau sapu, hanya gara-gara anak memecahkan piring murahan, tidak mau disuruh ke warung atau mengerjakan PR. Atau kalau di sekolah, ada guru yang menghukum anak push up sampai pucat pasi lantaran terlambat datang. Pikir mereka, si anak bakal jera melakukan kesalahan yang sama.
Kini, hukuman badan justru sering digugat efektivitasnya oleh kalangan orang tua, para pendidik, maupun psikolog. Hukuman badan ada kalanya memang berdampak positif. Namun, terbuka pula peluang untuk melahirkan dampak negatif.
Secara filosofis, orang tua merasa bertanggung jawab untuk mendisiplinkan dan menghukum anak demi kebaikan si anak sekarang dan kelak. Bahkan, secara tradisional pun, hukuman badan telah diterima sebagai salah satu metode sangat efektif untuk mengendalikan dan mendisiplinkan anak. Hal ini didukung oleh masyarakat yang percaya bahwa hukuman badan penting untuk mencegah degradasi moral, baik dalam kalangan rumah tangga maupun masyarakat.
Di sekolah, hukuman badan masih sering digunakan. Banyak guru atau para pendidik berpendapat, ketakutan murid pada hukuman fisik akan menambah kekuatan atau kewibawaan guru. Dengan demikian sang murid akan lebih mudah dikendalikan. Namun, ini bukanlah satu-satunya cara untuk mengendalikan murid atau anak. Ada banyak metode yang bisa dipilih untuk menumbuhkan kepatuhan atau kedisiplinan. Namun, jika semua metode tersebut sudah tidak mempan, hukuman badan bisa dijadikan jalan terakhir untuk menumbuhkan kepatuhan.
Bisa berakibat buruk
* Terhadap hukuman yang diterima, si anak bakal memberikan reaksi aktif atau pasif.
Reaksi aktif dapat dilihat saat hukuman berlangsung. Umpamanya, berteriak, mengentak-entakkan kaki, dll. Sedangkan reaksi pasif pada umumnya tidak ditunjukkan di depan orang tuanya. Contohnya, menyalurkan kemarahan kepada adiknya atau pembantu rumah tangganya.
Sebenarnya secara psikologis, manusia mempunyai kapasitas dan kemampuan untuk berbuat baik atau buruk. Hukuman badan mungkin akan mendukung perbaikan perilaku buruk mereka. Jika digunakan secara tepat, hukuman badan akan menjadi cara paling tepat untuk menurunkan atau mengurangi kelakuan yang tidak bisa diterima.
Contohnya, acap kali orang tua memberikan hukuman badan bila anak tidak mau melakukan aktivitas tertentu macam membuat PR atau melakukan latihan-latihan lain. Dalam kasus ini, hukuman badan dapat merusak keinginan atau motivasi anak untuk mengerjakan aktivitas tersebut. Sehingga aktivitas berikutnya dilakukan karena paksaan atau rasa takut, bukan karena keinginannya sendiri, dan dilaksanakan semata-mata hanya untuk menghindari hukuman. Pekerjaan yang demikian akan dirasakan anak tidak nikmat.
Hukuman fisik, menurut Neil A.S. Summerheil asal AS dalam bukunya A Radical Approach to Children Rearing, merupakan suatu usaha untuk memaksakan kehendak. Walaupun tujuan utamanya untuk menegakkan disiplin anak, tindakan ini dapat berakibat sebaliknya. Anak menjadi frustrasi. Selanjutnya, anak hanya merespons pada tujuan hukuman itu sendiri. Banyak anak merasa bahwa menerima hukuman badan tidak terhindarkan, sehingga mereka menjadi resisten (kebal) terhadap hukuman tersebut. Hukuman badan tidak membuat mereka melaksanakan suatu aktivitas dengan baik. Sebaliknya, anak akan cenderung membiarkan dirinya dihukum daripada melakukannya.
James Dobson asal Illinois, AS, dalam bukunya Dare to Dicipline menekankan, hukuman badan tidak akan mencegah atau menghentikan anak melakukan tindakan yang salah. Ganjaran fisik ini justru bisa berakibat buruk. Bahkan, dapat mendorong anak untuk meneruskan dan meningkatkan tingkah lakunya yang salah. Riset ahli lain, Leonard D. Eron, menunjukkan hukuman fisik dikhawatirkan malah mendorong anak untuk bertingkah laku agresif.
Celakanya, orang tua sering kali malah bereaksi terhadap agresivitas ini dengan menggunakan cara yang salah, misalnya dengan meningkatkan intensitas serta frekuensi hukuman badan. Tidak heran kalau anak kemudian malah meniru tingkah laku agresif orang tua atau orang dewasa yang menghukumnya. Di sini secara tidak sadar orang tua telah mengajarkan anak untuk berperilaku agresif.
Gunakan hukuman variatif
* Hukuman badan secara fisiologis dan psikologis memiliki dampak jangka pendek dan panjang.
Efek fisik jangka pendek misalnya luka memar, bengkak, dll. Sedangkan dampak fisik jangka panjang misalnya cacat seumur hidup. Efek psikologis jangka pendek, misalnya merasa marah, sakit hati, jengkel untuk sementara waktu. Dampak ini tentu lebih ringan dibandingkan dengan efek psikologis jangka panjang, seperti merasa dendam yang mungkin sampai bertahun-tahun.
Bahkan, Philip Greven dalam bukunya Spare the Child: The Religious Roots of Punishment and the Psychological Impact of Physical Abuse menyatakan, efek psikis jangka panjang itu termasuk disasosiasi bermacam bentuk seperti represi atau amnesia, pikiran terbelah serta kekurangpekaan perasaan.
Hukuman yang muncul karena orang tua khawatir kehilangan kewibawaan, bukan upaya untuk menunjukkan kasih sayang atau melatih anak agar disiplin pada aturan, akan menimbulkan reaksi negatif. Menurut Neil, anak akan merasa hukuman sebagai lambang kebencian orang tua kepada mereka. "Tidak heran kalau kemudian anak bereaksi negatif," tegasnya.
Arnold Buss seorang psikolog dalam bukunya Man in Perspective mengingatkan, bila hukuman diberikan terlalu sering dan anak merasakan hal ini tidak dapat dihindarkan, anak akan membentuk rasa ketidakberdayaan (sense of helplesness). Anak tidak belajar apa pun dari hukuman tersebut, tetapi cenderung menerimanya tanpa merasa bersalah. Konsekuensinya, menurut ahli dari Kanada ini, hukuman tidak mempunyai arti apa-apa bagi mereka. Rasa tidak berdaya ini dapat dikurangi dengan menggunakan hukuman yang variatif, tidak monoton.
Kondisi bertambah parah apabila anak mempunyai pandangan negatif terhadap dirinya sendiri sehingga anak tidak dapat memisahkan antara perilaku dengan kepribadian mereka yang sebenarnya. Mereka lalu menganggap dirinya memang bukan anak yang baik, tidak lagi memandang bahwa kelakuan mereka yang salah. Akibatnya, anak akan merasa rendah diri. Bila rasa tidak berdaya terhadap rasa rendah diri ini terbentuk, maka anak akan terus memandang diri mereka sebagai anak yang tidak baik. Akibatnya, mereka akan terus berperilaku buruk. Mereka pikir memang begitulah orang lain memandang dirinya. Dalam kasus ini kemungkinan untuk memperbaiki keadaan itu sangat sulit.
Tanpa hukuman badan
* Menurut Debby Campbell, seorang pendidik asal Ottawa, Kanada, dalam bukunya About Dicipline and Punishment, efektivitas hukuman badan lebih tergantung pada metodenya ketimbang frekuensinya.
Setiap kali menerima hukuman, memang anak akan jera untuk melakukan kesalahan yang sama. Namun setelah menerima hukuman, pada umumnya anak akan berusaha menarik perhatian orang tuanya untuk memperlihatkan penyesalan mereka atas perbuatan buruknya. Setelah situasi emosional berakhir, sering kali anak ingin berada dalam pelukan orang tuanya.
"Saat ini orang tua harus menyambut dengan pelukan hangat, penuh kasih sayang. Di sini pembicaraan dari hati ke hati antara anak dan orang tua perlu dilakukan," tambah Dobson. Di sinilah hukuman berdampak positif karena dapat meningkatkan perasaan cinta kasih antara anak dan orang tua.
Sebenarnya ada berbagai cara untuk mendidik anak agar mereka menaati suatu aturan atau melaksanakan suatu aktivitas. Tidak perlu harus dengan hukuman badan. Sekali lagi, hukuman badan harus dipandang sebagai jalan terakhir.
Jalan terbaik antara lain dengan memberikan teladan yang baik. Dengan demikian si anak akan mempelajari tentang apa yang boleh dan tidak boleh mereka perbuat. Metode non-hukuman badan bentuk lain adalah metode time out dengan mengisolasi si anak dalam ruangan kurang nyaman baginya selama beberapa menit. Atau, anak diminta mengerjakan sesuatu yang kurang menyenangkan baginya, misalnya membersihkan kamar mandi, menyapu, dilarang menonton TV seharian, dll. Namun hendaknya anak diberi peringatan sebelum hukuman dilaksanakan.
Jika hukuman badan tidak dapat dihindarkan, A.M. Cooke dalam bukunya Family Medical Guide memberikan beberapa saran hukuman badan seperti apa yang patut dilakukan:
* Memukul anak dengan menggunakan telapak tangan terbuka pada pantat, kaki, atau tangan.
* Hukuman diberikan cukup satu kali sehari.
* Jangan memberikan hukuman badan pada anak yang berusia kurang dari 1 tahun.
* Sedapat mungkin hindari hukuman pada saat orang tua sedang pada puncak emosi.
* Hukuman diberikan singkat dan sungguh-sungguh, segera setelah kesalahan dilakukan. *

POLISI, ANTARA DICINTAI DAN DIBENCI


Jatuhnya orde baru tahun 1998 telah menghantarkan Indonesia menuju gerbang baru, sebagaimana sebuah negara yang baru lahir, dibutuhkan landasan-landasan baru untuk menuju berdirinya sebuah negara yang dicita-citakan oleh rakyat. Belenggu yang selama ini dirasakan rakyat seolah terlepas untuk menuju kebebasan. Kelahiran Indonesia baru dalam masa era reformasi ditengah-tengah globalisasi dunia yang melanda di berbagai negara, telah membawa berkah diberbagai bidang. Diantaranya adalah lahirnya Kepolisian Negara Republik Indonesiayang independen dan berkedudukan langsung dibawah presiden.

Sejarah Kepolisian independen diawali dengan keluarnya Inpres No.02/1999 tanggal 1 april 1999 tentang pemisahan Polri dari TNI. untuk sementara Polri berada dibawah Menteri Pertahanan dan Keamanan Republik Indonesia. Pada HUT Bhayangkara 1 juli 2000, dikeluarkan kepres No. 89/2000 yang melepaskan Polri dari Dephan dan menempatkannya langsung dibawh Presiden. Kemudian melalui TAP MPR No. VI/2000 tanggal 18 agustus 2000 menetapkan pemisahan Polri dan TNI, serta TAP MPR No. VII/2000 yang mengatur peran Polri dan TNI. Inilah saat dimulainya babak baru Kepolisian Negara Republik Indonesia menuju Polri yang mandiri dan profesional, hal ini ditandai dengan ditetapkannya UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

POLRI SEBAGAI PENANGGUNG JAWAB KAMDAGRI
Penguatan kedudukan, tugas dan tanggung jawab Polri tercantum dalam konstitusi Negara Republik Indonesia yaitu UUD 1945. Dalam pasal 30 UUD 1945 disebutkan bahwa Polri bertanggung jawab terhadap masalah kamtibmas namun setelah amandemen ke - II UUD 1945 disebutkan bahwa dalam pasal 30 bahwa Polri bertanggung jawab terhadap Keamanan Dalam Negeri (Kamdagri). Hal ini membawa konsekuensi tugas Polri yang lebih luas, kompleks dan berat. Sebagai penanggung jawabKamdagri, Polri ikut serta menjadi penjaga demokrasi yang terus berkembang ditengah masyarakat. Peran Polri yang sangat kompleks menjadikan Polri memiliki wilayah tugas yang sangat luas dan strategis, sehingga profesionalisme tugas Kepolisian harus terus dikembangkan dan ditingkatkan.

POLISI ANTARA DICINTAI DAN DIBENCI
Tugas Polri bagaikan dua sisi mata uang yang berlawanan. sisi pertama Polri harus bisa menampilkan sosok yang melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat. Pada sosok inilah polisi harus bisa menampilkan pribadi yang ramah, penuh salam dan sapa, humanis, mampu berkomunikasi dengan baik kepada seluruh komunitas dalam masyarakat, melaksanakan tugas dalam menjaga dan memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat. Keberhasilan penampilan sosok polisi yang demikian akan melahirkan rasa kecintaan masyarakat kepada polisi, masyarakat akan merindukan kehadiran polisi ditengah-tengah mereka, masyarakat akan sangat dan mau melakukan konsultasi berbagai masalah kamtibmas dan pemecah masalah. Pada sisi ini dibutuhkan polisi yang mampu menampilkan sosok profesional dalam pelaksanaan tugas. Sehingga akan selalu terbangun komunikasi yang efektif dan berkelanjutan, senantiasa akan timbul partisipasi aktif untuk bersama-sama menjaga kamtibmas dilingkungannya. Inilah keberhasilan community policing atau kemitraan antara polisi dengan masyarakat.
Pada sisi kedua Polri berdasarkan tugas dan tanggung jawabnya hadir sebagai sosok penegak hukum. sebagai sosok penegak hukum, polisi harus menampilkan pribadi yang tidak diskriminatif dan selalu objektif dalam penanganan setiap pelanggaran hukum. Pribadi polisi yang harus kuat godaan, kuat terhadap setiap bentuk ajakan kolusi, korupsi dan nepotisme yang mengarah kepada pelaggaran kode etik Kepolisian maupun disiplin Kepolisian. Era reformasi sebagai era kebebasan bagi masyarakat dalam menampilkan berbagai persoalan yang ada kadang kala melunturkan sikap taat hukum, anarkisme, dan pelanggaran hukum selalu menjadi pilihan yang terbaik dan diyakini oleh masyarakat sebagai jalan yang benar. Hampir setiap kesempatan selalu terjadi bentrok, kericuhan dan konflik baik antar masyarakat maupun masyarakat dengan Polisi. Dalam keadaan yang demikian ini mau tidak mau, suka tidak suka polisi harus bertindak tegas sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Jika Polisi bertindak tegas bahkan mungkin ada yang menjadi korban, disinilah lahir polisi yang dibenci masyarakat. Ini wajar dan lumrah sebab ketidak berhasilan polisi dalam menampilkan sosok yang baik akan melahirkan kebencian dalam masyarakat.

POLISI YANG PROFESIONAL DAN DEMOKRATIS
Membangun polisi yang profesional dan demokratis tidaklah mudah. membutuhkan jangka waktu yang relatif lama, memerlukan biaya yang tidak murah, dan banyak sekali faktor-faktor yang dibutuhkan. Perubahan mind set anggota polisi adalah merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk mendukung sikap profesionalisme. Diakui bahwa selama berpuluh-puluh tahun mind set polisi bersikap militeristik telah menjadi bagian dari budaya polisi yang sangat susah untuk diubah. Perlu waktu bertahun-tahun untuk menjadikan polisi sipil (civilion Police). Paradigma baru kepolisian harus berorientasi pada kebutuhan masyarakat yang harus dilayani, tahu dan mengerti apa kebutuhan masyarakat. Sehingga dibutuhkan kemandirian, sikap profesional dan kemampuan penegakan hukum yang handal dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia melalui pendekatan etika, moral dan akal budi. Hal ini bisa dicapai apabila polisi yang profesional dan mandiri mampu secara efektif dan efisien melalui kemitraan yang baik dengan seluruh komponen dan comunity yang ada dalam masyarakat.

Artikel ini ditulis oleh Kapolres Nabire Polda Papua pada Majalah Rastra Samara Polda Papua edisi September 2012.

Daftar Kapolri (Dari Pertama hingga Sekarang)


Kapolri (Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia) adalah orang dengan jabatan tertinggi dalam Kepolisian Negara Republik Indonesia. Berikut adalah daftar nama-nama Kapolri dari yang pertama sampai sekarang. 

Sumber: wikipedia
FotoNamaMemulai jabatanMengakhiri jabatanKeterangan
1Raden Said Soekanto Tjokroadimodjo.jpgKomisaris Jenderal (Pol) Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo29 September 194514 Desember 1959
2Soekarno Djojonegoro.jpgKomisaris Jenderal (Pol) Soekarno Djojonegoro15 Desember 195929 Desember 1963
3Soetjipto Danoekoesoemo.jpgInspektur Jenderal (Pol) Soetjipto Danoekoesoemo30 Desember 19638 Mei 1965
4Soetjipto Joedodihardjo.jpgInspektur Jenderal (Pol) Soetjipto Joedodihardjo9 Mei 19658 Mei 1968
5Hoegeng young.jpgKomisaris Jenderal (Pol) Hoegeng Imam Santoso9 Mei 19682 Oktober 1971
6Mohamad hasan - cropped.JPGKomisaris Jenderal (Pol) Moch. Hasan3 Oktober 197124 Juni 1974
7Widodo budidarmo.jpgLetnan Jenderal (Pol) Widodo Budidarmo25 Juni 197425 September 1978
8Awaludinp.jpgLetnan Jenderal (Pol) Awaluddin Djamin, MPA26 September 19783 Desember 1982
9ImgSoedjarwoAnt.jpgLetnan Jendral (Pol) Anton Sudjarwo4 Desember 19826 Juni 1986
10Mochammad Sanoesi.jpgLetnan Jenderal (Pol) Moch. Sanoesi7 Juni 198619 Februari 1991
11Kunarto.jpgLetnan Jenderal (Pol) Kunarto20 Februari 19915 April 1993
12Banurusman Astrosemitro.jpgLetnan Jenderal (Pol) Banurusman Astrosemitro6 April 199314 Maret 1996
13Dibyo Widodo.jpgLetnan Jenderal (Pol) Dibyo Widodo15 Maret 199628 Juni 1998
14Roesmanhadi.jpgLetnan Jenderal (Pol) Roesmanhadi29 Juni 19983 Januari 2000
15Rusdihardjo.jpgLetnan Jenderal (Pol) Roesdihardjo4 Januari 200022 September 2000
16Bimantoro.jpgJenderal (Pol) Surojo Bimantoro23 September 200021 Juli 2001
17Cismail.gifJenderal (Pol) Chairudin Ismail20017 Agustus 2001Pejabat Sementara Kapolri
18Dai bachtiar.jpgJenderal (Pol) Da'i Bachtiar29 November 20017 Juli 2005
19Sutanto.jpgJenderal (Pol) Sutanto8 Juli 200530 September 2008
20FOTO BAMBANG 1.jpgJenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri1 Oktober 200822 Oktober 2010
212010622timur pradopo-kapolda jabar.jpgJenderal (Pol) Timur Pradopo22 Oktober 2010sekarang

Jenderal Polisi Drs. H. Mochamad Sanoesi



Salah seorang Putra terbaik yang dimiliki bangsa Indonesia adalah Jenderal Polisi Drs. H. Mochamad Sanoesi. Ia merupakan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) ke-10 yang menjabat mulai dari 18 Juni 1986 sampai 28 Februari 1991.

Mochamad Sanoesi dilahirkan di Bogor, Jawa Barat, pada tanggal 15 Februari 1935, dari pasangan Suami isteri bernama Mochamad Ropik dan Siti Utih. Sanoesi menjalani masa kecil dan masa remajanya di Kota Bogor, dan dibesarkan oleh lingkungan yang sangat mencintainya. Sanoesi memulai jenjang pendidiknnya pada tahun 1942 yaitu dengan masuk sekolah rakyat di Bogor, pada tahun 1852, Sanoesi lulus SMP dan di tahun 1955 Sanoesi dinyatakan lulus sekolah Menengah Atas. Setamat SMA, Sanoesi sempat menjalani masa kuliah selama 7 bulan di Universitas Indonesia, jurusan Sastra Inggris tetapi kemudian Ia memilih untuk meninggalkan kuliahnya tersebut dan lebih memilih untuk melanjutkan studinya di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian. Pada saat usianya 27 tahun, tepatnya tahun 1962, Sanoesi berhasil menamatkan PTIK, dan dilantik menjadi Komisaris Polisi II.

Kesempatan untuk melanjutkan jenjang pendidikan didapatkan Sanoesi ketika Ia bertugas di Madiun. Setelah melaui Seleksi yang ketat Ia dikirim untuk tugas belajar di International Police Academy, Amerika Serikat selama 12 bulan. Sanoesi juga mendapat kesempatan untuk belajar di Sekolah Staf dan Komando Kepolisian (Seskopol) dan pendidikan karir lanjutan ABRI yakni Sekolah Staff dan Komando Gabungan (Seskogab).

Sanoesi bukan hanya sukses dalam menempuh jenjang karirnya, Ia juga sukses dalam membina rumah tangga. Sanoesi menikah dengan gadis cantik bernama Nani Suryani Surawijaya yang dikenalnya ketika masa pendidikan, pernikahan mereka dianugerahi tiga orang anak.

Pada bidang karirnya, setelah lulus dari PTIK tahun 1962, Mochmad Sanoesi di tempatkan di Madiun Ssebagai Kapolres 1051 Kota Madiun, Jawa timur dan kemudian dipindahkan ke Kediri sebagai Kepala Staf Komdin Kediri. Dari Kediri, Ia ditarik ke Markas Besar (Mabes) Polri Jl.Trunojoyo, Jakarta. Ia bertugas di Komando pengembangan Pendidikan dan Latihan (Kobangdiklat). Ia pernah pula menjabat Kepala Dinas Penelitian dan Pengembangan Polri dan Kepala Staf Kobangdiklat Polri hingga 1982. Dari pusat, Ia kemudian dipromosikan menjadi Kapolda Kalimantan Selatan dengan Pangkat Brigadir Jenderal. Sukses di Kalimantan, satu setengah tahun Kemudian, Sanoesi ditarik lagi ke Jakarta dan diserahi jabatan Asisten Kamtibmas ABRI.

Pada 1 Juni 1985 tokoh yang terkenal suka membina hubungan dengan bawahan dan punya relasi yang sangat luas di kalangan kepolisian, militer dan sipil ini diangkat sebagai kapolda Jawa Tengah. Dibawah kepemimpin Sanoesi, Jawa Tengah keluar sebagai pelaksana terbaik Operasi Zebra 1985 untuk seluruh wilayah di Indonesia. Di Jawa Tengah itu, Ia juga membuka lembaran sejarah baru dengan mengasuransikan sekitar 23 ribu anggota polisi dan karyawan sipil Polda Jawa Tengah melalui penandatanganan kerjas sama denga PT Asuransi Jiwasraya. Baru sembilan bulan memangku jabatan Kapolda Jawa Tengah, konseptor Pataka PTIK yang berbunyi Vidya Satyatama Mitra ini diangkat ke jabatan puncak Kepolisian Republik Indonesia.

Sanoesi resmi dilantik sebagai Kapolri pada 18 Juni 1986 oleh Presiden Soeharto. Penyandang bintang tiga ini menggantikan Jenderal Polisi Anton Soedjarwo yang telah memasuki masa pensiun. Dalam masa tugasnya itu, Sanoesi melakukan banyak hal demi kemajuan Polri. Ia tercatat berhasil mengawal proses pembangunan sehingga berjalan dengan baik. Transisi dari Repelita IV ke Repelita V berjalan dengan mulus. Pemulihan umum 1987 pun tertib dan damai sehinga menghasilkan wakil-wakil rakyat yang siap bekerja unuk kepentingan nasional dalam Sidang Umum MPR 1988. Polri tidak lepas dari keberhasilan pemilu ini. Selama memimpin Polri, berbagai tindak kejahatan kekerasan yang meresahkan masyarakat dapat ditanggulangi oleh Sanoesi.

Nama Polri di luar negeri pun menjadi bahan pembicaaan di negara-negara ASEAN dan negara-negara maju. Pengiriman 50 orang perwira menengah Polri di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengawsi pembaruan politik di Namibia tahun 1989, merupakan bukti nyata bahwa Polri di masa kepemimpinan Sanoesi cukup memberikan darma bakti kepada dunia. Penangkapan beberapa orang asing, yang di negaranya telah berbuat tindak kejahatan, merupakan contoh lain bahwa Polri smasa kepemimpinan Sanoesi telah memberikan sumbangsih yang sebesar-besarnya di dalam dan di luar negeri. Negara-negara Asia Tenggara, Anggota ASEANPOL, menyatakan hormat kepada Sanoesi, karena selama Ia memimpin Polri dapat bekerja sama lebih erat lagi dalam rangka penangulangan kejahatan regional.

Optimasi dan dinamisasi merupakan ikon yang popular selama Sanoesi memimpin Polri. Strategi itu sering disebut dengan singkatan opdin Polri. Dengan Strategi opdin, Polri berhasil menjalankan tugas-tugasnya meski dalam kondisi SDM, peralatan teknologi, dan anggaran yang serba terbatas. Para perwira polisi didorong untuk berhemat, bertindak efektif dan efisien dalam mengambil kebijakan yang berkaitan dengan teknologi tinggi karena minimnya anggaran kepolisian. Tamtama, bintara, dan perwira polisi digiring Sanoesi untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada serta menjadi teladan bagi masyarakat dalam kondisi bangsa yang sedangng mengalami berbagai kesulitan. Dengan strategi opdin ini, semua titik kelemahan Polri dibalik oleh Sanoesi menjadi kekuatan yang bercitra positif.

Slamet Gundul Sang Perampok

Jarang-jarang Mabes Polri mengeluarkan perintah paling keras dalam menangkap bajingan: hidup atau mati. 
Tahun 1989, Direktur Reserse Mabes Polri Koesparmono Irsan mengeluarkan perintah kepada segenap jajaran Reserse Polri di Pulau Jawa, Nusa Tenggara, dan Sumatera Bagian Selatan agar menangkap seorang buron dengan kata-kata ancaman tadi. 'Tangkap Slamet Gundul hidup atau mati.' 
Siapa Slamet Gundul? Lelaki berpipi tembam, hidung lebar, dan tanpa lipatan kelopak mata itu dulu pernah menjadi musuh polisi nomor satu. Namanya berubah-ubah. Kadang Slamet Santoso, lain waktu Samsul Gunawan. Tapi julukannya yang top adalah Slamet Gundul. 
Dialah tersangka bos kawanan garong nasabah bank bersenjata api yang belasan kali menggegerkan berbagai kota di seantero Pulau Jawa. Polisi boleh dibilang sudah mati-matian mengejar buron itu. Tapi bukan Slamet Gundul namanya, bila tidak licin. Ia beberapa kali lolos dari kepungan polisi. Pernah tertangkap dan diadili, tapi ia kabur dari halaman Pengadilan Negeri Jakarta Timur, begitu vonisnya dibacakan hakim. 
Slamet bersama 7 kawanannya pernah dicegat oleh enam jagonya reserse Polda Ja-Teng, dari Unit Sidik Sakti, di sebuah pompa bensin di Pandansimping, Klaten, Jawa Tengah, ketika hendak beroperasi. Lewat baku tembak selama 15 menit, seorang rekan Slamet, Jarot, tewas dengan lima peluru. Sedangkan dua orang lagi, Subagio dan Sugeng, tertangkap dalam keadaan terluka. Slamet sendiri, yang sudah kena tembak di kedua bahunya, masih bisa kabur dengan sepeda motor. 
Polda Jawa Tengah tentu saja gemas akibat lolosnya buron itu. Sebab, dalam setahun beroperasi di Semarang, komplotan Slamet bisa menjarah duit Rp 159,5 juta. 
Tahun 1989 komplotan itu merampas Rp 23 juta milik pedagang tembakau asal Kendal, Rp 40 juta uang juragan ikan, dan Rp 34 juta milik Universitas Islam Sultan Agung. Nasabah BCA cabang Peterongan kena sikat Rp 28,5 juta dan karyawan PT Nyonya Meneer kena rampok Rp 34 juta. 
Setelah kelompok 'Kwini', Slamet agaknya mencatat rekor perampokan dalam frekuensi kejahatan dan hasil jarahan tertinggi saat ini. Korban utamanya memang nasabah bank. 'Biasanya salah seorang dari kami datang dulu ke bank dengan sepeda motor, pura-pura jadi nasabah,' kata Subagio dan Sugeng, anggota kelompok Slamet yang tertangkap di Klaten, hampir serempak.
Dengan penyamaran itu, kata kedua orang tadi, mereka bisa mengetahui nasabah yang mengambil uang dalam jumlah besar. Kalau sudah dapat sasaran, komplotan Slamet itu akan menguntit mangsanya dengan sepeda motor. Dengan kode itu, Slamet, yang biasanya menunggu bersama gangnya di atas mobil di luar halaman bank, segera tahu mangsa yang dituju. Setelah itu, barulah kelompok Slamet, yang bermobil, menyusul dan menghadang korban. 
Modus ini diduga juga dilakukan komplotan Slamet ketika merampok di kawasan Kampung Bali, Jakarta Pusat. Ketika itu mobil Chevrolet dengan penumpang dua karyawan CV Bambu Gading akan menyetor uang Rp 10 juta ke bank. Kendaraan mereka tiba-tiba dipepet kendaraan perampok, sebuah minibus dan dua buah sepeda motor. Mobil korban benar-benar tak bisa bergerak setelah minibus itu tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Pada waktu itulah perampok yang bersepeda motor mengacungkan pistol lewat jendela. Ketika komplotan itu beraksi, dua polisi, di antaranya Letnan Dua Soewito, mencoba menyergap mereka. Tembak-menembak terjadi. Dua perampok tewas, empat lainnya kabur. Tapi, di pihak polisi, Soewito roboh dengan peluru bersarang satu sentimeter di bawah mata kanannya. Sebelum 'main' di Semarang, pada 1987, reserse Jakarta memang beberapa kali menguber komplotan itu. Waktu itu rekor Slamet sudah merampok 11 kali nasabah bank. 
Pada Januari 1987, dua regu reserse Polda Meto Jaya mengepung rumah sewaan Slamet di bilangan Pondok Kopi, Jakarta Timur. Tapi, begitu pintu rumah diketuk polisi, yang keluar cuma istrinya. Slamet sendiri, dengan menggenggam dua pistol Colt kaliber 32 dan 38 melompati tembok dua meter yang membatasi kamar mandinya dengan dapur tetangga. Di rumah itu sudah ada dua anggota polisi yang menunggunya. Tapi polisi kalah cepat. Bagai koboi mabuk, ia menembak membabi buta. Ajaib, ia menerobos pagar puluhan petugas yang mengepungnya. Ia kabur setelah menyambar sebuah Metromini yang sedang dicuci keneknya. 
Toh pada awal tahun itu juga polisi berhasil menjerat belut itu. Bersama dua anggota komplotannya, Jarot dan Sahut, ia dihadapkan ke meja hijau. Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur mengganjar ketiganya masing-masing hukuman 3 tahun. Tapi, ketika petugas menggiring ketiga terpidana itu ke mobil tahanan, mereka mendorong pengawal tersebut dan segera lari. Hanya Sahut yang bisa diamankan lagi. Tapi Slamet dan Jarot kabur dengan pengendara sepeda motor, yang anehnya telah menunggu di luar halaman pengadilan. Menurut Sugeng dan Subagio, bos mereka selama di LP Cipinang justru berhasil merekrut anggota baru dari sesama rekan tahanan di sana. 'Slamet itu orangnya pandai mengambil hati, sehingga banyak yang bersedia ikut kelompoknya,' kata mereka. Sugeng dan Subagio, yang masuk Cipinang juga karena merampok bank, mengaku ikut Slamet setelah berkenalan di Cipinang tersebut. Subagio, setelah menjalani hukuman selama 2 tahun, baru dilepas awal 1989. 'Setelah saya keluar LP, saya lalu menghubunginya,' ujarnya. Menurut mereka, meskipun Slamet yang menyusun skenario kejahatan dengan kekerasan itu, toh sebenarnya ia tak kejam. 'Ia belum pernah membunuh korban-korbannya,' kata Sugeng. Yang kejam itu, kata mereka, justru Jarot, yang mati tertembak di pompa bensin itu.

Pelatihan VPSHR - IHT 2012 Polres Teluk Bintuni


Pada tanggal 17 sampai dengan 21 september 2012 Polres Teluk Bintuni bersama BP Tangguh melaksanakan Pelatihan dalam dinas (In House Training) bertempat di Mako Polres Teluk Bintuni. Pelatihan yang bertajuk Voluntary Principles of Security and Human Right – In House Training (VPSHR – IHT) 2012 ini dilaksanakan setiap tahunnya.

Latihan ini sangat penting dilakukan agar para Personel Polri di Lapangan lebih mengerti tentang cara-cara pengamanan yang sesuai dengan azas-azas Human Right (Hak Asasi Manusia).

Latihan ini melibatkan 30 personel Polres Teluk Bintuni dengan beberapa materi pembekalan antara lain PERKAP NO. 01 / 2009 tentang Penggunaan Kekuatan POLRI dan Hak Asasi Manusia.

Beberapa pemantau juga hadir yaitu perwakilan BP Tangguh, Komnas HAM Papua, dan LBHI Papua Barat.


Berikut foto-foto kegiatan: